SaluranPemilu.com – Peneliti Senior Founding Fathers House (FFH) Dian Permata menyatakan, elektabilitas partai politik (parpol) dipengaruhi pengetahuan publik tentang partai yang bersangkutan. Faktanya, tingkat pengetahuan dan pengenalan publik terhadap nomor urut parpol masih rendah.
“Dari seluruh responden yang kami survei, hanya 25,51 persen responden yang tahu kalau Partai Nasdem ada di nomor urut 1 parpol peserta pemilu. Yang lainnya tidak dapat menyebutkan nomor urut berapa Partai Nasdem itu,” ujar Dian di Jakarta, Rabu (29/1/2014).
Survei dilakukan terhadap 1.070 orang responden yang memiliki hak pilih yang dipilih secara random. Survei diselenggarakan pada 18 Desember 2013 hingga 25 Januari 2014. Angka kemungkinan salah (margin of error) penelitian sebesar 3 persen dan level kepercayaan sebesar 95 persen.
Dia mengatakan, Partai Nasdem memang partai yang paling banyak diketahui nomor urutnya. Dia menduga hal itu karena nomor urut 1 memang mudah diingat. Di bawah Partai Nasdem, ada Partai Golkar yang nomor urutnya diketahui 25,42 persen responden. Di peringkat berikutnya, Partai Amanat Nasional (PAN). Sebanyak 19,81 persen publik mengetahui PAN ada di nomor urut delapan. Dia menduga hal itu karena iklan PAN yang kerap menyampaikan nomor urutnya.
“Ketika kami tanya Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan, 15,6 persen responden dapat menyebut nomor urut partai itu, yaitu empat,” kata Dian.
Parpol yang paling sedikit diketahui nomor urutnya oleh publik adalah Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI). Hanya 0,46 persen responden yang disurvei tahu bahwa partai itu ada di nomor urut 15 sebagai peserta pemilu. Padahal, PKPI pun beriklan di televisi.
Menurut Dian, rendahnya pengetahuan publik soal nomor urut PKPI karena dalam iklannya, partai itu lebih mengedepankan tokoh sentralnya yaitu Ketua Umum PKPI Sutiyoso. Menurutnya, nasib PKPI sebanding dengan Partai Hanura. Partai itu banyak beriklan di televisi, terutama di stasiun televisi yang terafiliasi dengan partainya. Namun, hanya 7,75 persen responden dapat menyebutkan nomor urut Partai Hanura.
“Memang idealnya iklan dapat berpengaruh sejalan pada tingkat pengetahuan publik terhadap nomor urut parpol. Tapi, pesan dalam iklan hanya mengedepankan tokoh. Padahal iklan seperti itu kan lebih cocok untuk pemilu presiden, bukan pemilu legislatif,” kata Dian.
Comments[ 0 ]
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.